Menjangkau yang belum terjangkau

Ibu Umiyati

Pada saat ini, cukup banyak keluarga miskin yang tidak mempunyai kartu jamkesmas. Untuk membiayai pengobatan penyakit ringan, sebagian besar dari mereka masih bisa mengatasinya. Namun bila diharuskan menjalani operasi atau pengobatan yang memerlukan biaya besar, keluarga miskin tanpa jamkesmas akan kewalahan. Mereka memerlukan bantuan agar bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang memang benar benar dibutuhkannya.

Salah satu contohnya adalah (almarhumah) ibu Umiyati dari desa Krendetan, Bagelen, Purworejo yang menderita hernia  di perutnya sejak 12 tahun yang lalu. Suaminya, Pak Suradi adalah seorang tukang becak. Sejak 8 tahun lalu mereka berusaha mendapatkan jamkesmas namun selalu ditolak. Dengan bantuan #Sedekah Rombongan, Ibu Umiyati dibawa ke Yogya untuk berobat. Meskipun operasi berjalan dengan baik dan Ibu Umiyati sempat sadar dan berbincang bincang dengan keluarganya, namun pada tanggal 16 Februari 2012, beliau meninggal dunia.

Terinspirasi oleh kisah Bu Umiyati, dengan mengucap bismillah, Klinik Umiyah mulai mencoba menjadi jembatan antara berbagai pihak, yaitu pasien dhuafa, dermawan dan relawan yang ingin beramal, dan rumah sakit umum/ swasta.

Klinik Umiyah akan bekerja sama dengan relawan untuk mengidentifikasi pasien dhuafa yang membutuhkan pertolongan. Pasien akan dibawa ke Klinik Umiyah untuk mendapatkan pertolongan awal (rawat jalan atau rawat inap).  Selama dirawat sementara, Klinik Umiyah akan membantu keluarga pasien untuk mendapatkan keringanan biaya berobat dan mencari dukungan dana dari para dermawan (dermawan perseorangan, lembaga amil zakat, dll). Klinik Umiyah akan menggalang dana lewat berbagai jalur, misalnya lewat website, FB, mengkontak pemda, lembaga amil zakat, dll. Setelah tersedia dana, Klinik Umiyah akan merujuk pasien tersebut ke rumah sakit yang mampu menangani penyakitnya. Pasien dhuafa tersebut akan dirujuk ke rumah sakit yang mampu menangani pasien secara medis dan juga bersedia memberi keringanan biaya. Bila bisa ditangani di Purworejo, maka perawatan pasca operasi juga akan ditangani oleh Klinik Umiyah. Bila pasien tidak memerlukan operasi, pasien yang dirawat di Klinik Umiyah akan dikonsultasikan ke dokter spesialis yang ada di Purworejo.

Misalnya pada pasien Alif Oktaviansyah yang menderita meningoencephalocele. Ketika mengetahui kasus adik Alif dari Sedekah Rombongan, maka staf Yayasan Ummy, bapak Wibowo Setiaji mengontak keluarga adik Alif Oktaviansyah. Adik Alif sudah beberapa kali ke RS Sarjito dan menunggu kapan operasi bisa dilaksanakan. Bapak Wibowo, dengan membawa semua dokumen berkonsultasi dengan RS Sarjito. Ternyata peralatan MS CT di RS Sarjito sedang rusak. Padahal pemeriksaan dengan alat tersebut mutlak dilakukan sebelum operasi dilaksanakan. Yayasan Ummy memfasilitasi pemeriksaan MS CT ke Semarang.

Adik Rendi Setiawan yang menderita jantung bawaan Tetralogy Fallot, mengalami serangan sesak napas. Yayasan Ummy membiayai transportasi  ambulan ke RS Sarjito beserta uang sakut nenek yang menunggunya. Begitu pula ketika sudah diperbolehkan pulang, Yayasan Ummy memfasilitasi transportasi penderita pulang ke Purworejo.

Semoga Allah swt berkenan meridloi dan menggerakkan semua pihak sehingga upaya ini bisa lancar dan bermanfaat bagi banyak orang, khususnya masyarakat dhuafa. Mari kita jadikan Klinik Umiyah sebagai ladang amal bersama. Amin

About admin

Dr Gunawan Setiadi, adalah pendiri Yayasan Ummy.
This entry was posted in wirausaha sosial. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published.