7 Kebiasaan “mematikan” yang menjauhkan dari kebahagiaan (4)

bersyukurtulisan ini sambungan dari artikel sebelumnya

Keenam, berpikir bahwa kebahagiaan adalah tujuan yang dapat dicapai.

Bila kita mengkaitkan kebahagiaan kita dengan sesuatu diluar diri kita, maka kebiasaan tersebut sering membuat kita tidak bahagia.

Contohnya: Saya akan bahagia setelah menikah, saya akan bahagia bila semua hutang sudah dapat dilunasi, saya akan bahagia bila diterima kuliah di UGM, saya akan bahagia bila sudah punya rumah.

Semua kebiasaan tersebut akan membuat hidup menjadi tidak bahagia. Ada dua hal penyebabnya. Pertama, bila kita tidak berhasil mencapainya, maka hidup kita tidak akan bahagia selamanya. Kedua, bila kita telah mencapai sesuatu, kebahagiaan tersebut hanya berlangsung sementara.

Ketika kita berhasil kuliah di UGM, memang kita akan bahagia, namun sifatnya hanya sementara dan pendek. Begitu pula dengan keberhasilan lainnya, sifat kebahagiaan tersebut hanya sementara.

Ketujuh, lupa bersyukur.

Salah satu penyebab seseorang tidak bahagia adalah karena mereka tidak pernah mau bersyukur, selalu tidak pernah merasa puas.

Padahal, apapun kondisi kita saat ini, selalu ada yang bisa disyukuri.

Ketika kecelakaan dan kaki harus dipotong satu, kita bisa bersyukur bahwa hanya satu kaki yang dipotong, bahwa kita masih hidup, dll.

Berbagai studi menunjukkan bahwa orang yang banyak bersyukur cenderung lebih bahagia, lebih sehat jasmani dan rohaninya, lebih panjang umur dan merasa puas hidupnya.

artikel terkait: 4 jalur kebahagiaan ; 12 rahasia kebahagiaan

Salurkan zakat, infak, sedekah dan wakaf anda ke (1). Rekening Britama BRI Cabang Purworejo 0078-01-029420-50-3 atas nama Yaysan Islam Ummy, atau (2) Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo 136-00-1075666-3 atas nama Yayasan Islam Ummy

 

About admin

Dr Gunawan Setiadi, adalah pendiri Yayasan Ummy.
This entry was posted in Hidup bermakna and tagged , , , , . Bookmark the permalink.