Perubahan Kebijakan!

Setelah beroperasi selama hampir 4 tahun, mulai hari ini Klinik Umiyah terpaksa mengenakan biaya pendaftaran sebesar Rp 5000 dan biaya penggantian obat.

Klinik Umiyah berusaha memberikan pelayanan kesehatan secara efisien, namun tidak dapat terlaksana karena terbentur peraturan yang berlaku.

Sesuai ketentuan pemerintah, Klinik Umiyah setidaknya harus mempunyai 2 dokter, 1 apoteker, 4 perawat dan 4 bidan serta tenaga pendukung lainnya. Semua itu memakan biaya sekitar Rp 20 juta per bulannya.

Dengan berkurangnya dukungan dari para dermawan, sedangkan kerja sama dengan BPJS masih dalam proses pengurusan, maka dengan terpaksa Klinik Umiyah menetapkan kebijakan baru tersebut.

Demikian pengumuman ini. semoga dapat dimaklumi

Pengurus yayasan Islam Ummy.

Posted in Uncategorized, wirausaha sosial | Comments Off

Zhang Da, Kisah Seorang Anak Teladan dari Negeri China

Seorang anak di China pada 27 Januari 2006 mendapat penghargaan tinggi dari pemerintahnya karena dinyatakan telah melakukan “Perbuatan Luar Biasa”. Diantara 9 orang peraih penghargaan itu, ia merupakan satu-satunya anak kecil yang terpilih dari 1,4 milyar penduduk China.

Yang membuatnya dianggap luar biasa ternyata adalah perhatian dan pengabdian pada ayahnya, senantiasa kerja keras dan pantang menyerah, serta perilaku dan ucapannya yang menimbulkan rasa simpati.
Sejak ia berusia 10 tahun (tahun 2001) anak ini ditinggal pergi oleh ibunya yang sudah tidak tahan lagi hidup bersama suaminya yang sakit keras dan miskin. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan.
Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang yang pasti tidak murah untuk dia. Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai.
Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah.
Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggungjawab untuk meneruskan kehidupannya dan Papanya. Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya.
Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui.

Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan.
Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya.
Hidup seperti ini ia jalani selama 5 tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat. Zhang Da merawat Papanya yang sakit sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk merawat papanya.
Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan papanya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan papanya, semua dia kerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih. Semua pekerjaan ini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari.
Zhang Da menyuntik sendiri papanya. Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli.
Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan injeksi / suntikan kepada pasiennya. Setelah ia rasa mampu, ia nekat untuk menyuntik papanya sendiri. Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, maka Zhang Da sudah terampil dan ahli menyuntik.
Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da, pembawa acara (MC) bertanya kepadanya,

“Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu? Berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah?
Besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yang hadir.
Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!”

Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya, “Sebut saja, mereka bisa membantumu.”
Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar ia pun menjawab,

“Aku mau mama kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama kembalilah!”

Semua yang hadir pun spontan menitikkan air mata karena terharu. Tidak ada yang menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya. Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya?
Mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit? Mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, pasti semua akan membantunya.
Mungkin apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya. Aku mau Mama kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya.

Kisah di atas bukan saja mengharukan namun juga menimbulkan kekaguman. Seorang anak berusia 10 tahun dapat menjalankan tanggung jawab yang berat selama 5 tahun. Kesulitan hidup telah menempa anak tersebut menjadi sosok anak yang tangguh dan pantang menyerah.
Zhang Da boleh dibilang langka karena sangat berbeda dengan anak-anak modern. Saat ini banyak anak yang segala sesuatunya selalu dimudahkan oleh orang tuanya. Karena alasan sayang, orang tua selalu membantu anaknya, meskipun sang anak sudah mampu melakukannya.

Kopas dari: http://www.apakabardunia.com/2011/06/zhang-da-kisah-seorang-anak-teladan.html

Posted in kisah inspiratif | Comments Off

Laporan Keuangan Januari 2015

Semoga para dermawan mendapat balasan dari Allah swt denagn berlipat ganda sesuai dengan janjiNya dalam Surat Al Baqarah ayat 261:

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui

Posted in laporan keuangan | Comments Off

Ding Zhu Ji, Anak yang Berbakti Kepada Ibunya

Kurang lebih satu tahun yang lalu terdapat satu foto yang tersebar di internet dan sangat menyentuh hati siapapun yang melihatnya. Foto ini dengan cepat tersebar luas di internet dan menjadi bahan pembicaraan.

Foto tersebut memperlihatkan seorang pria paruh baya yang sedang menggendong seorang wanita tua. Layaknya seorang ibu yang menggendong anaknya yang masih kecil dengan kain gendongan. Tiga hari selepas foto tersebut tersebar, topik hangat yang jadi perbincangan adalah “siapakah dia?” banyak warga yang mencoba untuk mencari identitas sang anak yang menggendong ibunya tersebut.

Usut punya usut, ternyata Laki-laki tersebut bernama Ding Zhu Ji (62 tahun) dan perempuan tua yang digendongnya adalah ibunya yang berusia 82 tahun. Ding adalah seorang mantan petugas Biro Investigasi dari Departemen Kehakiman di Tainan.

Salah seorang kawannya mengatakan kepada Apple Daily bahwa ibu Ding menderita patah tulang pada kaki kirinya dan Ding telah melakukan serangkaian pengobatan kepada sang ibu. Dalam foto tersebut Ding terlihat sedang menggendong ibunya dirumah sakit Chi Mei Medical Center di Taiwan.

Ding memutuskan untuk menggendong sang ibu, agar dirinya dapat lebih cepat untuk tiba di rumah sakit dan sang ibu pun tidak akan merasa terlalu sakit ketika ia menggendongnya dibandingkan dengan menggunakan mobil atau kendaraan lainnya.

“Kami tidak terkejut dan juga tidak heran atas foto tersebut, dia memang dikenal sebagai seorang anak yang sangat berbakti,” ucap salah seorang teman Ding.

Salah seorang kawan Ding bahkan juga menceritakan bahwa Ding telah menolak untuk dipromosikan yang mengharuskannya pindah ke wilayah lain dengan satu alasan bahwa ia tidak akan bisa mengurus ibunya.

Ding tidak pernah menyangka aksi spontan yang dilakukannya ini menjadi pusat perhatian orang-orang yang melihatnya. Selain foto, ternyata CCTV di rumah sakit yang didatangi Ding juga merekam saat-saat Ding menggendong sang ibu layaknya seorang bayi.

Ding sempat berkisah bahwa dirinya merasa sangat berhutang budi terhadap ibunya. Di saat ibunya sedang mengandung dirinya, memasuki usia ke 6 bulan, dia dan ibunya sempat akan dibuang ke laut lantaran tidak memiliki kartu identitas ketika naik perahu bersama prajurit Taiwan. Saat itu banyak orang yang memohon agar ibunya tidak dilemparkan ke laut, beruntung seorang pria menemukan kartu identitas mereka, sehingga pada akhirnya mereka berdua bisa selamat.

Mendengar kisah mengharukan tersebut dari mulut sang ibu, Ding pun merasa sangat berhutang budi pada ibunya yang telah melahirkan dan membesarkannya tersebut. Di antara saudaranya memang dirinyalah yang paling dekat dengan sang ibu. Bahkan hingga usianya memasuki 62 tahu, dirinya masih tetap merawat sang ibu dengan penuh kasih sayang.

Namun apa yang terjadi dengan sang ibu juga menjadi suatu penyesalan yang tak terhingga untuk dirinya. Diakuinya karena kelalaian dirinya sang ibu mengalami patah kaki kiri. Untuk itulah Ding memutuskan membawa sang ibu ke rumah sakit dengan cara menggendongnya.

Benar-benar suatu kisah pengorbanan anak yang sangat menyentuh. Tidak banyak anak yang mau berbuat demikian untuk sang ibu pada zaman sekarang ini. Kisah Ding Zhu Ji ini adalah sebuah inspirasi nyata mengenai seorang anak yang berbakti kepada ibunya. Lantas apa yang sudah kita lakukan untuk orangtua kita tercinta, terutama ibu kita?

“Ibumu, Ibumu, Ibumu”, barulah kemudian “Ayahmu”Dalam pandangan Islam, penghormatan terhadap Ibu dilukiskan dalam satu hadist Abu Hurairah RA, yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW menyebut nama ‘ibumu’ hingga tiga kali ketika menjawab pertanyaan seseorang “kepada siapa aku harus berbakti pertama kali.”  Barulah yang ke empat kalinya Nabi menjawab ‘ayahmu. (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Menurut Imam Al-Qurthubi, Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah.

Dalil di atas merupakan dasar nilai bagi umat Islam dalam menghormati seorang ibu. Bagi Negara Indonesia, penghormatan terhadap seorang ibu ditetapkan tanggal 22 Desember sebagai hari besar yang diperingati secara nasional.

Begitu besar pengorbanan seorang ibu sehingga dihormati dengan perayaan yang bertajuk Hari Ibu setiap tahunnya. Kasih sayang ibu memang tak terkira, ibulah yang telah melahirkan kita, merawat serta membesarkan kita dengan penuh kasih sayang. Dalam melakukan semua itu seorang ibu tidak pernah mengharapkan balasan apapun dari anaknya.

Sepantasnya, ibu diposisikan pada derajat yang tinggi. Sebab, dalam kenyataannya ibu mengalami kondisi yang sulit dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. (VAL)

Sumber: dikutip dari https://www.facebook.com/notes/mukjizat-alquran/kisah-inspiratif-ding-zhu-ji-anak-yang-berbakti-kepada-ibunya/10151953079305528

Posted in kisah inspiratif | Comments Off

Laporan Keuangan Desember 2014

Posted in laporan keuangan | Comments Off

Laporan Keuangan November 2014

Semoga para dermawan mendapat balasan berlipat ganda dari Allah SWT, dilapangkan rezekinya, dimudahkan urusannya, ditinggikan derajatnya, disehatkan jiwa raganya, dikabulkan segala doa dan permintaannya, dan dirahmati dengan kebaikan yang mengalir sampai ke anak cucu. Aamiin.

Posted in laporan keuangan | Comments Off

Laporan Keuangan Oktober 2014

Alhamdulillah, kondisi keuangan Klinik Umiyah kembali positif, walaupun belum benar benar sehat. Semoga kedepannya, Klinik Umiyah bisa semakin sehat dan berkembang menjadi rumah sakit yang khusus melayani penduduk miskin.

Pengurus Yayasan berdoa semoga Allah SWT berkenan memberi balasan kepada para dermawan dengan berlipat ganda, melapangkan rezekinya, menyehatkan jiwa raganya, meninggikan derajatnya, memudahkan segala urusannya dan erahmati dengan kebaikan yang mengalir sampai ke anak cucu. Aamiin.

Posted in laporan keuangan | Comments Off

Menolong tidak harus dengan uang

Rajesh Kumar (43 th) Sharma bukan pedagang kaya raya, namun dia mempunyai hati yang mulia.

Setiap hari kerja, selama 2 jam, dia tinggalkan toko  kelontongnya, untuk mengajar anak anak miskin. Dia mendirikan sekolah gratis dibawah jembatan laying di kota New Delhi.

Pelan pelan orang lain mulai tergerak mendukungnya. Ada yang menyumbang sepatu, seragam sekolah. Ada pula yang menyumbang plastic sebagai lantai sehingga anak anak dapat duduk belajar dengan lebih nyaman.

Menolong orang miskin, memang tidak melulu dengan uang. Kita dapat menyumbangkan apa yang kita punyai. Rajesh Kumar Sharma menyumbangkan tenaganya. Orang lain yang tergerak akan mendukungnya.

Posted in kisah inspiratif | Comments Off

Laporan Keuangan September 2014

Semoga para dermawan mendapat balasan berlipat ganda, dilapangkan rezekinya, dimudahkan segala urusannya, diampuni segala dosanya, ditinggikan derajat, disehatkan jiwa raganya, dan dirahmati dengan kebaikan yang mengalir sampai ke anak cucu.

Posted in laporan keuangan | Comments Off

Pengendalian penyakit ebola virus

Hingga 12 Oktober 2014, penyakit akibat virus ebola telah menyerang 8997 orang di 7 negara, yaitu Liberia, Siera Leone, Guinea, Senegal, Nigeria, Spanyol dan Amerika Serikat. Jumlah penderita yang meninggal mencapai 4493 orang meninggal.

Kondis wabah di Liberia, Siera Leone dan Guinea dikabarkan memburuk, sedangkan kondisi di Nigeria dan Senegal terlihat membaik. Selama 42 hari terakhir tidak ada lagi kasus ebola baru di Nigeria.

Wabah ebola di Nigeria bisa terkendali karena kesigapan para petugas kesehatan dari Kementrian Kesehatan maupun dari rumah sakit yang ditunjuk merawat ebola. Petugas surveillance Kemenkes dengan cepat mengisolasi pasien baru dan memonitor kondisi orang orang yang kontak atau terpapar dengan penderita ebola. Cara ini ternyata bisa mengendalikan penyebaran virus ebola.

Dilain pihak, banyak hambatan yang dihadapi di Liberia, Siera Leone dan Guinea ketika harus mengisolasi dan memonitor orang yang terpapar virus ebola sehingga penyebaran virus semakin tidak terkendali. Hambatan tersebut antara lain karena kurangnya kerja sama dari masyarakat, banyak petugas kesehatan yang tidak mau merawat pasien ebola karena takut tertular dan keterbatasan obat serta peralatan kesehatan.

Dengan pengalaman menangani Flu Burung, diperkirakan  Indonesia cukup siap menghadapi wabah penyakit ebola bila sampai datang ke Indonesia

Posted in Uncategorized | Comments Off

Pedagang sayuran yang dermawan

Chen Shu Chu hanyalah seorang pedagang sayur biasa, kini usianya sekitar 63 tahun.  Kiosnya ada di pasar Taitung County Central Market, Taiwan bagian timur.

Namun, ada yang luar biasa pada wanita yang tidak pernah menikah ini. Dia telah menyumbangkan sekitar Rp 4 milyar uang tabungannya untuk berbagai kegiatan sosial, seperti sumbangan ke panti asuhan, sekolah tempat dia dulu bersekolah dan berbagai kegiatan sosial lainnya.

Bagaimana caranya?

Chen Shu Chu selalu hidup sederhana. Berapapun penghasilannya, dia hanya memakai sekitar Rp 40.000 per hari untuk biaya hidupnya. Sisanya dia simpan untuk kemudian disumbangkannya  ke berbagai kegiatan amal.

Kehidupan sehari-hari Chen Shu Chu berlangsung rutin. Setiap hari dia bangun jam 3 pagi, bersiap siap untuk kemudian bekerja di kios sayurannya hingga jam 7-8 malam.

Chen Shu Chu berasal dari keluarga msikin. Ibunya meninggal karena tidak punya biaya untuk biaya perawatan rumah sakit akibat komplikasi ketika melahirkan adiknya. Adik laki lakinya juga meninggal karena keluarganya tidak punya biaya untuk mengobati penyakitnya yang harus dibawa ke Taiwan National University Hospital.

 

 

Posted in kisah inspiratif | Comments Off